Logo SantriDigital

khutbah idul adha santri dan inspirasi qurban

Khutbah Jumat
H
Hasbullah Ahmad
4 Mei 2026 4 menit baca 0 views

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ...

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلاَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Saudaraku, hadirin sekalian yang berbahagia, Sungguh, hati ini terasa berat saat berhadapan dengan hari-hari yang mulia ini. Hari-hari yang seharusnya dipenuhi sukacita Idul Adha, namun bagi jiwa yang merasakannya, justru menjadi momen untuk merenung dalam keharuan. Keharuan akan cinta Allah yang tak terhingga, dan keharuan akan betapa seringnya kita lalai membalasnya. Terlebih lagi bagi para santri, sebagai pewaris ilmu dan teladan ummat, momen ini seharusnya menjadi cambuk untuk lebih introspeksi diri. Mari kita pandang hari ini, hari Idul Adha, bukan sekadar perayaan berkurban, tapi sebuah pelajaran agung yang diwariskan oleh para nabi. Ingatlah, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam, kekasih Allah yang Maha Suci. Beliau diperintahkan untuk menyembelih buah hatinya, Ismail Alaihissalam, anak yang dinanti sekian lama, penyejuk mata dan penyejuk hati. Bayangkanlah, wahai jiwa yang merasakan, bagaimana hati seorang ayah akan terkoyak? Bagaimana tangis ibu yang merelakan permata hatinya? Namun, iman Nabi Ibrahim jauh lebih kokoh dari bentangan samudra, keyakinannya lebih dalam dari dasar lautan. Beliau berseru kepada putranya: قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ *(Berkata Ibrahim, "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Ismail menjawab, "Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, kelak engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.")* Sungguh, ucapan seorang anak yang menyayat hati, namun begitu syahdu dalam ketaatan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Di hari yang penuh berkah ini, kita diingatkan kembali tentang hakikat pengorbanan. Kurban yang kita tunaikan, daging yang kita sedekahkan, adalah simbol dari penyerahan diri yang total kepada Sang Pencipta. Ia bukan hanya soal memotong leher hewan, namun memotong sembelihan hawa nafsu yang seringkali menjauhkan kita dari Tuhan. Para santri sekalian, di tengah kesibukan menuntut ilmu, jangan sampai kita terlelap dalam gemerlap dunia. Ujian kurban ini adalah ujian terbesar bagi keikhlasan. Apakah kita siap mengorbankan waktu demi tadarus, mengorbankan keinginan duniawi demi akhirat? Pernahkah kita merenung sejauh mana diri kita telah mendekatkan diri pada Allah, atau justru semakin menjauh dalam kesibukan yang sia-sia? Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ *(Daging dan darah hewan kurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang dapat mencapainya adalah takwa kamu. Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap petunjuk-Nya yang telah diberikan-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.)* Lihatlah, wahai saudara-saudaraku. Bukan kuantitas darah yang menghantar kita pada keridhaan-Nya, tetapi kualitas ketakwaan. Bukan seberapa besar hewan yang kita sembelih, tetapi seberapa besar pengorbanan kita dalam menundukkan diri, dalam menyingkirkan kesombongan, dalam membersihkan hati dari segala noda. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Betapa beratnya timbangan amalan di akhir kelak. Betapa menyesalnya kita saat semua kesempatan telah sirna. Di dunia ini, kita sibuk mengejar dunia yang fana, sementara akhirat yang kekal kita abaikan. Para santri, sungguh kalian adalah aset ummat. Jalan dakwah terbentang di hadapan kalian, menerangi kegelapan jiwa-jiwa yang tersesat. Namun, bekal apakah yang telah kalian genggam? Cukupkah hanya ilmu tanpa amal, hanya retorika tanpa realita? Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail, ajarannya adalah pengorbanan yang tulus, tanpa pamrih, semata-mata mengharap ridha Ilahi. Bukankah kita pernah mendengar firman-Nya yang penuh ancaman sekaligus peringatan: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ *(Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.)* Renungilah ayat ini dalam heningnya malam. Apa yang telah kita siapkan untuk hari esok? Hari pertanggungjawaban yang tak akan terhindarkan, di hadapan Sang Maha Pengadil. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Ada tangisan yang terdengar di alam semesta ini, tangisan para penghuni neraka yang tak pernah kita bayangkan. Ada ratapan yang merayap dari relung jiwa yang tak pernah kita sadari. Kehidupan di dunia ini bagaikan setetes embun di padang pasir yang luas, sementara akhirat adalah lautan abadi. Betapa seringnya kita lalai, betapa seringnya kita berbuat dosa, betapa seringnya kita melukai sesama. Di hari Idul Adha ini, mari kita mulai sebuah pengorbanan baru: mengorbankan kebiasaan buruk, mengorbankan kemaksiatan, mengorbankan kesombongan diri. Mari kita hadirkan penyesalan yang tulus, hingga air mata ini mengalir bukan karena kesedihan dunia, tapi karena kerinduan pada Sang Khaliq. Betapa meruginya kita, jika hingga detik ini, hati kita masih tertutup rapat, belum merasakan getaran cinta Allah, belum tergetar oleh firman-Nya. Para santri yang mulia, mari jadikan semangat Idul Adha ini sebagai titik tolak. Tanamkan dalam diri kalian pengorbanan yang lebih besar dari sekadar menyembelih hewan. Korbankan ego kalian, korbankan rasa tinggi kalian, korbankan kesibukan duniawi yang melalaikan. Jadikan ilmu yang kalian dapatkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan untuk meninggikan diri di mata manusia. Ingatlah sabda Rasulullah SAW: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ *(Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga.)* Semoga Allah angkat derajat kita dengan ilmu yang ikhlas. Marilah kita bersimpuh dalam malam ini, memohon ampunan dari-Nya, sebelum datangnya malam yang tak bisa kita ubah. Sebelum datangnya hari di mana penyesalan tak lagi berarti. Mari kita tangisi dosa-dosa kita, tangisi kelalaian kita, tangisi cinta kita yang belum sepenuhnya tercurah kepada Allah. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →